World Rally Championship (WRC) 2025 di Arab Saudi menghadirkan kejutan besar pada hari Kamis. Tiga kandidat juara dunia—Elfyn Evans, Sébastien Ogier, dan Kalle Rovanperä—yang biasanya bersaing di posisi teratas, justru harus berjuang di pinggiran top 10 klasemen setelah delapan special stage.
Fenomena ini bukan karena performa buruk semata, melainkan akibat road cleaning effect yang jauh lebih ekstrem dari perkiraan.
Artikel ini akan mengulas secara mendalam bagaimana kondisi lintasan gravel baru di Arab Saudi memengaruhi jalannya kompetisi, bagaimana masing-masing kandidat juara merespons situasi, serta apa implikasinya terhadap perebutan gelar dunia.
Road Cleaning Effect: Faktor Penentu di Saudi Arabia
Apa itu Road Cleaning?
– Road cleaning effect adalah fenomena di mana mobil-mobil pertama yang melintas di lintasan gravel harus “menyapu” permukaan jalan dari debu, pasir, dan kerikil longgar.
– Akibatnya, mobil-mobil yang melintas lebih awal kehilangan grip dan catatan waktunya lebih lambat dibandingkan mobil-mobil yang melintas belakangan.
– Biasanya efek ini berkurang pada second pass (lintasan yang dilalui untuk kedua kalinya), namun di Saudi Arabia efeknya justru semakin kuat. Kondisi di Saudi Arabia
– Lintasan gravel di Saudi Arabia masih baru dan brutal, sehingga permukaan jalan berubah drastis setiap kali mobil melintas.
– Ban grippy yang digunakan para pembalap WRC semakin mempercepat proses “membersihkan” jalur, membuat mobil-mobil berikutnya melaju lebih cepat.
– Hasilnya, Evans, Ogier, dan Rovanperä yang start lebih awal harus menerima kenyataan tertinggal jauh dari para pesaing lain.
Sébastien Ogier: Frustrasi tapi Strategis
Juara dunia delapan kali, Sébastien Ogier, memulai hari di posisi kedua start. Ia mengaku sudah memaksimalkan performa, namun tetap harus puas di posisi ketujuh, tertinggal 44,2 detik dari pemimpin klasemen sementara, Adrien Fourmaux (Hyundai).
> “Saya sudah melakukan segalanya. Target utama adalah berada di depan Elfyn dan Kalle, dan itu tercapai. Tapi di klasemen, hasilnya tidak terlihat. Road cleaning terlalu ekstrem,” ujar Ogier.
– Ogier menyoroti bahwa pada second pass, ia berharap kondisi lebih baik. Namun kenyataannya, lintasan semakin cepat untuk mobil-mobil berikutnya.
– Meski frustrasi, Ogier tetap unggul tipis atas rival utamanya, sehingga secara matematis ia masih memimpin perebutan gelar jika rally berakhir saat itu.
Elfyn Evans: Terlalu Hati-Hati di Pagi Hari
Sebagai pemimpin klasemen sementara WRC 2025, Evans mendapat giliran pertama menghadapi lintasan. Sayangnya, pendekatan konservatif di pagi hari membuatnya kehilangan banyak waktu.
– Evans tertinggal 50,3 detik di loop pagi, lalu kembali kehilangan 48,0 detik di loop sore.
– Total waktu membuatnya terpuruk di posisi kesembilan. > “Saya terlalu berhati-hati pagi ini. Setelah itu lebih baik, tapi lintasan berkembang terlalu cepat. Setiap mobil berikutnya bisa lima detik lebih cepat. Sulit membuat perbedaan dalam kondisi seperti ini,” kata Evans.
– Evans mengakui bahwa efek road cleaning kali ini jauh lebih besar dari biasanya.
– Meski kecewa, ia tetap optimis bahwa hari-hari berikutnya bisa memberi peluang lebih baik.

Kalle Rovanperä: Puncture Menghantui, Tapi Masih Optimis
Juara dunia dua kali, Kalle Rovanperä, sebenarnya memiliki posisi start yang lebih menguntungkan dibanding Evans dan Ogier. Namun nasib buruk menimpanya di stage 4, ketika ia mengalami puncture.
– Insiden itu membuatnya kehilangan waktu berharga, meski ia berhasil bangkit dan menyalip Evans di sore hari dengan selisih 4,1 detik.
– Rovanperä kini berada di depan Evans, meski masih tertinggal jauh dalam perebutan gelar dengan defisit 24 poin.
> “Kami mencoba dan berhasil naik satu posisi. Tapi setiap mobil yang lewat membuat lintasan semakin cepat, bahkan lebih cepat dari perkiraan. Masih ada jalan panjang, mari lihat apa yang bisa kami lakukan besok,” ujar Rovanperä.
Adrien Fourmaux: Pemimpin Tak Terduga
Di tengah drama tiga kandidat juara, Adrien Fourmaux dari Hyundai tampil sebagai kejutan besar.
– Fourmaux memimpin klasemen setelah delapan stage dengan keunggulan signifikan.
– Kondisi lintasan yang semakin cepat justru menguntungkan posisinya, karena ia start lebih belakang dibanding trio kandidat juara.
Keberhasilan Fourmaux menambah warna dalam persaingan, sekaligus menunjukkan betapa strategi start order bisa menentukan hasil di rally gravel.
Implikasi Terhadap Perebutan Gelar
Posisi Sementara
– Ogier: unggul tipis atas Evans dan Rovanperä, berada di posisi ketujuh.
– Evans: turun ke posisi kesembilan, kehilangan momentum.
– Rovanperä: naik ke posisi kedelapan, masih tertinggal poin signifikan. Skenario Gelar
– Jika rally berakhir saat ini, Ogier akan merebut gelar dengan selisih 1 poin dari Evans.
– Namun masih ada enam stage tersisa pada hari Jumat, sehingga segalanya bisa berubah.
– Road position akan kembali menjadi faktor krusial, terutama bagi Evans yang harus start lebih awal.
Hari pertama WRC Saudi Arabia 2025 membuktikan bahwa rally bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga strategi, kondisi lintasan, dan sedikit keberuntungan.
Evans, Ogier, dan Rovanperä harus menerima kenyataan pahit terjebak di luar 10 besar akibat road cleaning effect yang brutal.
Namun, dengan enam stage tersisa, peluang masih terbuka. Ogier sementara unggul, Evans berusaha bangkit, dan Rovanperä tetap optimis.
Sementara itu, Adrien Fourmaux mencuri perhatian sebagai pemimpin klasemen tak terduga.
Pertarungan gelar dunia WRC 2025 kini semakin panas, dan Saudi Arabia telah membuktikan diri sebagai panggung penuh drama yang bisa mengubah arah sejarah kejuaraan.



