| Redaksi OtomotifNews.com
Anggapan bahwa mobil pribadi harus diganti setelah 5-10 tahun marak di masyarakat. Ini bukan aturan resmi, tetapi sebuah realita keausan yang kontroversial di industri otomotif.
Benarkah mobil punya tanggal ‘kedaluwarsa’?
Poin-Poin Utama Kontroversi ‘Masa Expired’ Mobil:
• Bukan Tanggal Kedaluwarsa Resmi: Secara hukum dan teknis, mobil pribadi tidak memiliki tanggal expired resmi yang membatasi usia pakainya. Mobil usia 15 tahun bisa tetap layak jalan jika dirawat dengan baik.
• Awal Mula Mitos 10 Tahun: Anggapan 10 tahun muncul karena periode ini adalah titik di mana biaya perawatan besar-besaran mulai diperlukan, seringkali melebihi nilai depresiasi mobil.
• Regulasi Terbatas pada Angkutan Umum: Wacana pembatasan usia kendaraan di Jakarta memang ada, tetapi hingga kini aturan tersebut hanya berlaku untuk angkutan umum, bukan untuk mobil pribadi.
• Fokus pada Komponen, Bukan Bodi: Yang benar-benar punya ‘usia pakai’ terbatas adalah komponen kritis, bukan mobil secara keseluruhan. Contohnya:
• Ban: Direkomendasikan ganti antara 6-10 tahun, terlepas dari kedalaman tapak, karena karet kehilangan elastisitas.
• Transmisi Otomatis: Sering bermasalah setelah masa garansi habis, sekitar 8-10 tahun, perbaikannya bisa sangat mahal.
• Kaki-Kaki: Komponen seperti shock absorber dan bushing wajib diperhatikan setelah usia 5 tahun ke atas karena sering aus.
• Jarak Tempuh Lebih Penting: Para ahli sepakat bahwa jarak tempuh (odometer) adalah indikator utama kelayakan mobil, bukan hanya usia tahunnya.
• Jarak wajar untuk mobil 10 tahun berkisar 150.000 – 200.000 km. Jika melebihinya, mobil dianggap membutuhkan perawatan yang jauh lebih intensif.
• Kunci Kelayakan: Perawatan Rutin: Selama pemilik disiplin pada servis berkala, mengganti oli, dan memeriksa sistem kelistrikan, mobil tua dapat beroperasi dengan prima, menepis mitos ‘expired’.





