Peluncuran mobil listrik pertama Ferrari bernama “Luce” justru memicu badai kritik global. Desainnya dianggap terlalu futuristis, tidak memiliki “jiwa Ferrari”, bahkan disebut mirip mobil listrik China hingga hatchback biasa oleh netizen dan pengamat otomotif.
Namun di balik hujatan tersebut, Ferrari tampaknya memang sedang memainkan strategi besar yang jauh lebih dalam daripada sekadar menjual mobil listrik.
Menurut CEO Ferrari, Benedetto Vigna, minat terhadap Luce justru sangat tinggi meski dihujat habis-habisan di media sosial. Ferrari bahkan mengklaim sudah menerima banyak pesanan dari pelanggan lama maupun pelanggan baru.
Ferrari Sengaja Membuat Mobil yang Memecah Pendapat
Ferrari sadar betul bahwa pelanggan fanatik mereka adalah pecinta mesin bensin V8 dan V12 dengan suara brutal khas Maranello. Karena itu, saat Luce hadir dalam bentuk mobil listrik lima pintu dengan desain “aneh”, backlash sebenarnya sudah diprediksi sejak awal.
Desainer legendaris eks Apple, Jony Ive, ikut terlibat dalam proyek ini. Ferrari sengaja tidak membuat Luce terlihat seperti Ferrari klasik. Mereka justru ingin menciptakan identitas baru untuk era elektrifikasi.
Chief Design Officer Ferrari bahkan mengatakan Luce bukan “eksperimen”, melainkan bagian dari masa depan Ferrari.
Strategi Asli Ferrari: Cari Orang Kaya Baru, Bukan Fans Lama
Inilah poin paling penting.
Ferrari tampaknya sadar bahwa pasar supercar konvensional mulai jenuh. Sementara itu, pasar miliarder muda pecinta teknologi dan EV — terutama di China — justru tumbuh sangat cepat.
Laporan menyebut Ferrari sedang membidik pasar China yang kini didominasi mobil listrik premium. Penjualan Ferrari di China juga menurun dalam beberapa tahun terakhir, sehingga Luce diposisikan untuk menarik pembeli baru, bukan sekadar memuaskan fans lama Ferrari.
Artinya, Ferrari sedang mencoba mengubah citra: dari “mobil bensin klasik untuk kolektor lama” menjadi “simbol status teknologi ultra-premium untuk generasi miliarder baru.”
Kontroversi = Marketing Gratis
Strategi Ferrari juga terlihat sangat jelas: membuat mobil yang viral.
Walau saham Ferrari sempat turun lebih dari 8% setelah peluncuran Luce, nama Ferrari justru mendominasi pemberitaan global selama beberapa hari penuh.
Di dunia luxury brand, kontroversi sering kali lebih efektif daripada iklan biasa.
Ferrari tahu: orang mungkin membenci Luce sekarang, tetapi semua orang tetap membicarakannya.
Dan bagi brand eksklusif, perhatian publik adalah mata uang mahal.
Bahkan Lamborghini Sindir Ferrari
Menariknya, rival utama Ferrari yaitu Lamborghini justru memanfaatkan situasi ini untuk menegaskan strategi mereka sendiri.
CEO Lamborghini, Stephan Winkelmann, mengatakan keputusan membatalkan proyek EV Lamborghini adalah “langkah yang benar”, karena pelanggan mereka belum siap menerima supercar full listrik.
Sindiran ini memperlihatkan bahwa industri supercar sendiri masih terpecah soal masa depan mobil listrik.
Ferrari Tidak Peduli Semua Orang Suka
Ferrari tidak membutuhkan jutaan pembeli seperti produsen biasa.
Produksi mereka sangat terbatas. Bahkan dengan kontroversi sebesar ini, Luce tetap berpotensi sold out karena target pasarnya hanyalah kalangan ultra kaya dunia.
Jadi hujatan publik kemungkinan memang bukan ancaman besar bagi Ferrari.
Justru bisa jadi, kontroversi ini adalah bagian dari strategi untuk membangun identitas baru Ferrari di era EV.





