Mitsubishi Lancer Evolution (Evo) adalah ikon performa Jepang yang reputasinya dibangun dari reli, sirkuit, dan seputar motorsport.
Namun, tidak semua generasi Evo dipersepsikan sama oleh penggemar. Salah satu perdebatan paling panjang di dunia otomotif adalah perbandingan Lancer Evolution X dengan Lancer Evolution IX.
Secara teknologi, Evo X lebih modern. Namun secara karakter, banyak penggemar justru menilai Evo IX lebih “murni” sebagai mobil performa liar.
Berikut ulasan faktual mengenai kekurangan Evo X dibanding Evo IX, berbasis data teknis, pengalaman pengguna, dan realitas pasar.

1. Bobot Lebih Berat: Musuh Utama Performa
Salah satu kritik paling konsisten terhadap Lancer Evolution X adalah berat bodi yang meningkat signifikan.
- Evo IX: ±1.400 kg
- Evo X: ±1.560 kg
Kenaikan bobot sekitar 150–160 kg berasal dari:
- Struktur bodi lebih kaku
- Tambahan fitur keselamatan
- Sistem elektronik yang lebih kompleks
Dampaknya jelas:
- Akselerasi terasa lebih lambat
- Respons mobil tidak seagresif Evo IX
- Konsumsi bahan bakar lebih boros
- Dalam dunia performa, bobot adalah segalanya. Evo IX unggul dalam hal kelincahan dan rasa “ringan” saat dipacu.
2. Karakter Mesin Berubah Drastis
Evo IX menggunakan mesin legendaris 4G63 2.0L turbo, sementara Evo X beralih ke 4B11T berbahan aluminium.
Kekurangan Evo X di sektor mesin:
- Blok aluminium lebih sensitif panas ekstrem
- Tidak sekuat 4G63 untuk tuning ekstrem
- Biaya rebuild mesin lebih mahal
- Mesin 4G63 dikenal mampu menahan boost besar tanpa modifikasi internal besar.
Itulah alasan Evo IX masih menjadi favorit tuner hingga hari ini.
3. Sensasi Berkendara Lebih “Jinak”
Evo X dirancang lebih modern dan ramah pengguna, tetapi justru di sinilah letak kekurangannya bagi purist.
Perbedaan rasa berkendara:
- Evo IX: kasar, agresif, liar
- Evo X: stabil, halus, terkontrol
Sistem S-AWC (Super All Wheel Control) pada Evo X memang canggih, tetapi:
- Mengurangi keterlibatan pengemudi
- Lebih mengandalkan komputer daripada insting pengemudi
Bagi pecinta sensasi mekanis, Evo IX terasa lebih “hidup”.

4. Biaya Perawatan dan Elektronik Lebih Kompleks
Evo X dibekali:
- ECU lebih kompleks
- Banyak sensor
- Sistem transmisi SST (pada varian tertentu)
Dampaknya:
- Diagnosis kerusakan lebih sulit
- Biaya servis lebih tinggi
- Tidak semua bengkel sanggup menangani
Sebaliknya, Evo IX lebih sederhana secara mekanikal dan lebih mudah dirawat, terutama di pasar Indonesia.
5. Desain Kurang Ikonik bagi Sebagian Penggemar
- Ini memang subjektif, tetapi tetap relevan secara pasar.
- Evo IX dianggap puncak desain agresif klasik Evo
- Evo X tampil lebih besar dan membulat
- Identitas “mobil reli jalanan” terasa berkurang
- Hal ini berpengaruh langsung pada harga pasar.
Dalam kondisi setara, Evo IX sering kali lebih mahal daripada Evo X di pasar mobil bekas.
Tips Memilih dan Memiliki Evo X agar Tidak Kecewa
Jika Anda tetap mempertimbangkan Evo X, berikut tips realistis agar pengalaman kepemilikan tetap optimal:
- Pilih Varian Manual: Hindari SST jika menginginkan keawetan dan biaya lebih terkendali.
- Perhatikan Sistem Pendinginan: Upgrade radiator dan intercooler sangat disarankan, terutama untuk penggunaan agresif.
- Jangan Over-Tuning Tanpa Perhitungan: Mesin 4B11T kuat, tetapi tidak sefleksibel 4G63 untuk boost ekstrem.
- Pastikan Riwayat Servis Jelas
Evo X yang dirawat buruk akan menjadi sumber masalah mahal.
Mitsubishi Lancer Evolution X bukan mobil buruk, tetapi dibandingkan Evo IX, ia memiliki beberapa kekurangan signifikan:
- Lebih beratKarakter mesin kurang tahan banting
- Sensasi berkendara lebih jinak
- Biaya perawatan lebih tinggi
Jika anda mengejar emosi berkendara dan potensi tuning, Evo IX masih menjadi pilihan ideal. Namun, jika Anda menginginkan performa tinggi dengan stabilitas modern, Evo X tetap layak dipertimbangkan dengan catatan memahami batasannya.





