| Redaksi, OtomotifNews.com
Raksasa otomotif asal Tiongkok, BYD (Build Your Dreams), kembali menjadi sorotan dunia setelah mengumumkan recall lebih dari 115.000 unit kendaraan listrik karena dugaan masalah pada sistem baterai bertegangan tinggi yang berpotensi menyebabkan korsleting.
Langkah ini langsung memicu gelombang kewaspadaan di industri kendaraan listrik global, terutama di tengah meningkatnya penjualan EV di kawasan Asia Tenggara.
Menurut data resmi yang dirilis oleh State Administration for Market Regulation (SAMR), recall ini melibatkan beberapa model populer, termasuk BYD Qin Plus DM-i, Song Plus EV, dan Han EV produksi 2023–2024.
Masalah ditemukan pada modul manajemen baterai (Battery Management System/BMS) yang berpotensi menimbulkan overheating, hingga menyebabkan korsleting atau kebakaran jika tidak ditangani segera.
Meski kasus insiden fisik belum banyak dilaporkan, BYD memilih langkah preventif. Seluruh kendaraan terdampak akan mendapatkan pembaruan sistem BMS dan penggantian unit modul baterai secara gratis, dilakukan melalui diler resmi di seluruh Tiongkok.
> “Keamanan pengguna menjadi prioritas absolut kami. BYD memastikan proses penggantian dan inspeksi berjalan cepat tanpa membebani konsumen,” ujar juru bicara resmi BYD melalui rilis pers perusahaan, Sabtu (19/10).
Perwakilan BYD Indonesia menegaskan bahwa unit yang beredar di Tanah Air tidak termasuk dalam daftar recall. Pasalnya, sebagian besar kendaraan BYD yang dijual di Indonesia menggunakan versi baterai Blade generasi terbaru dengan sistem pendingin berbeda.
Namun, analis industri menilai kasus ini bisa menjadi peringatan keras bagi semua pemain kendaraan listrik.
Menurut riset BloombergNEF, sekitar 72% EV di dunia masih menggunakan komponen baterai buatan pabrikan China, termasuk sel, modul, hingga sistem kontrol termal.
> “Kasus BYD menegaskan bahwa rantai pasok baterai global belum sepenuhnya steril dari risiko. Dalam ekosistem EV yang saling terhubung, satu masalah bisa mengguncang kepercayaan pasar internasional,” ujar Li Wen Hao, analis otomotif di Nikkei Mobility Watch.
Sejak pengumuman recall, saham BYD di bursa Hong Kong sempat turun 3,4% pada perdagangan akhir pekan. Namun, pelaku pasar menilai dampak jangka panjang akan bergantung pada kecepatan dan transparansi penanganan recall.
Reputasi BYD selama ini dikenal solid — terutama karena inovasi baterai Blade yang dianggap lebih aman dan tahan suhu ekstrem dibanding teknologi lithium-ion konvensional.
Kendati demikian, bagi industri otomotif di Indonesia, kasus ini membuka dua sisi:
1. Positif, karena menunjukkan keseriusan pabrikan besar menjaga standar keamanan produk.
2. Negatif, sebab kembali menimbulkan keraguan konsumen terhadap stabilitas sistem kelistrikan EV — terutama bagi mereka yang baru mempertimbangkan transisi dari kendaraan konvensional.
Di tengah situasi ini, distributor kendaraan listrik di Indonesia seperti Wuling, Hyundai, DFSK, hingga Neta mulai mengeluarkan pernyataan resmi terkait standar baterai mereka.
Momen ini bisa menjadi peluang edukasi pasar — bahwa kualitas dan garansi baterai merupakan faktor kunci adopsi kendaraan listrik nasional.
Selain itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tengah menyiapkan standarisasi sistem keamanan baterai nasional (SNI EV Battery Safety) yang ditarget rampung awal 2026.
Regulasi ini diharapkan menjadi fondasi utama industri EV nasional, mengingat target ambisius pemerintah untuk menghadirkan 2 juta unit kendaraan listrik di jalan pada 2030.
Recall besar-besaran yang dilakukan BYD menjadi cermin penting bagi seluruh industri otomotif global — bahwa keamanan baterai adalah reputasi.
Langkah cepat, transparansi, dan tanggung jawab produsen menjadi penentu arah kepercayaan konsumen terhadap masa depan kendaraan listrik.
Sementara itu, bagi pasar Indonesia, kasus ini sekaligus menjadi wake-up call untuk memastikan bahwa transformasi menuju era mobil listrik tidak hanya cepat, tapi juga aman dan berstandar global.





