Dua pembalap wanita dari Indonesia Ladies Dragster (ILD), Dhea Molyna dan Anggi Avianica, siap mencuri perhatian di ajang car contest The Ultimate Auto Showdown Bekasi 2026. Bukan berlaga di lintasan drag race, kali ini keduanya akan membawa karakter dan konsep mobil masing-masing untuk berhadapan dengan penilaian dewan juri di Mega Bekasi Hypermall, Minggu, 1 November 2026.
Kehadiran dua pembalap binaan Arlita Agustina, Ketua Umum Indonesia Ladies Dragster, menjadi daya tarik tersendiri dalam kompetisi modifikasi mobil persembahan OtomotifNews.com kali ini.
Dikenal melalui dunia balap dragster yang menuntut ketepatan, konsistensi, dan keberanian dalam menghadapi lintasan, Dhea dan Anggi kini menghadapi tantangan berbeda. Mereka harus mampu menampilkan konsep modifikasi yang matang, detail pengerjaan, serta karakter kendaraan di hadapan dewan juri yang terdiri dari para pelaku otomotif, modifikator, dan builder Indonesia.
Persaingan ini bukan semata soal tampilan. Identitas kendaraan, pemilihan komponen, kualitas pengerjaan, hingga keselarasan konsep menjadi bagian penting yang membuat setiap mobil memiliki cerita tersendiri.

Dhea Molyna Bawa Mercedes-Benz C200 Kompressor Bergaya C63 AMG
Dhea Molyna Indriani hadir dengan Mercedes-Benz C-Class W204 C200 Kompressor lansiran 2008 yang telah mendapatkan peningkatan tampilan mengacu pada facelift 2014. Sedan premium tersebut mengusung warna Millenium Jade V2, dipadukan dengan interior merah yang memberikan kontras kuat sekaligus mempertegas karakter modifikasinya.
Mobil berkapasitas 1.800 cc dengan sistem supercharger ini menggabungkan pembaruan eksterior, penyempurnaan interior, serta peningkatan performa mesin. Pengerjaan modifikasi melibatkan Rteam Tangerang, sementara Dhea membawa nama Indonesia Ladies Dragster sebagai identitas komunitasnya.
Pada sektor eksterior, Mercedes-Benz W204 tersebut mendapatkan konversi tampilan facelift 2014 secara menyeluruh. Karakter sporty diperkuat melalui body kit C63, lips karbon, side skirt karbon, grille karbon, ducktail karbon, serta diffuser karbon.
Sektor kaki-kaki turut mendapatkan perhatian. Mobil ini menggunakan sistem air suspension Feelair full kit empat titik dari Willy FWD, camber kit depan dan belakang, serta radius bodi sekitar 3 cm di bagian depan dan belakang.

Tampilan semakin tegas dengan pelek Hayashi R18, spesifikasi lebar 10–11 inci, dan center lock kit. Untuk mendukung sistem pengereman, Dhea mengandalkan kaliper AP Racing enam piston di depan dan empat piston di belakang.
Sementara itu, sistem pembuangan menggunakan knalpot full stainless steel dengan valvetronic. Fitur lainnya mencakup sunroof Webasto ukuran L dan lampu full LED.
Masuk ke kabin, nuansa premium dipertahankan melalui penggunaan setir orisinal Mercedes-Benz, panel karbon, serta retrim interior merah dengan material AMG Wolfdrop. Sistem hiburan dipercayakan kepada perangkat audio Venom, termasuk subwoofer, tweeter, power amplifier, dan head unit.
Tidak berhenti pada penampilan, sektor mesin juga mendapatkan peningkatan melalui upgrade supercharger serta remap ECU dan TCU. Kombinasi tersebut memperlihatkan pendekatan modifikasi yang menyentuh aspek visual, kenyamanan, dan performa.
Dengan konsep sedan Eropa yang memadukan gaya sporty, sentuhan premium, dan ubahan teknis, Mercedes-Benz milik Dhea menjadi salah satu mobil yang menarik untuk diperhatikan dalam persaingan kelas wanita di The Ultimate Auto Showdown.

Anggi Avianica Andalkan Toyota Starlet EP81 Berkonsep Street Racing
Berbeda dari Dhea yang mengusung sedan premium Eropa, Anggi Avianica Putri membawa pendekatan modifikasi yang lebih dekat dengan karakter mobil kompak Jepang. Ia menurunkan Toyota Starlet EP81 berbasis Starlet SE Limited tahun 1991 dengan konsep street race dan drag race.
Mobil yang dikenal dengan nama Kenta EP81 tersebut mempertahankan mesin 2E naturally aspirated (NA) bawaan pabrik. Alih-alih melakukan engine swap, pembangunan mobil difokuskan pada optimalisasi mesin, sistem pengapian, pengendalian, dan keselamatan.
Dikerjakan bersama Cilember Motor, Starlet milik Anggi tampil dengan cat ulang berwarna putih yang mengacu pada Starlet SE Limited spesifikasi pasar Eropa atau European Domestic Market (EDM).
Di balik tampilannya yang sederhana, sektor mesin mendapatkan penyegaran menyeluruh. Pekerjaan yang dilakukan meliputi full refresh engine, porting dan polishing cylinder head, serta penyeimbangan ulang pulley, crankshaft, dan flywheel. Perhitungan rasio kompresi ruang bakar juga dilakukan untuk mendukung konsep pembangunan mesin.
Sistem pengapian menggunakan perangkat MSD, mulai dari MSD Ignition System, MSD Ignition Coil, hingga MSD Plug Wire atau kabel busi. Pada sistem pembuangan, Anggi mengandalkan custom exhaust dengan konfigurasi header 4-1-1.

Transmisi tetap mempertahankan gearbox standar bawaan Toyota Starlet. Namun, sektor kopling mendapatkan peningkatan melalui penggunaan clutch set milik Toyota 4A-GE.
Karakter balap semakin terasa pada bagian interior. Anggi menggunakan setir Nardi Gara Flat Bottom, jok depan Recaro SR3 semi-bucket, serta sabuk pengaman balap Sparco enam titik. Jok belakang dilepas atau menggunakan konfigurasi rear seat delete, sementara roll bar ditambahkan sebagai bagian dari konsep keselamatan kendaraan.
Untuk sektor kaki-kaki, Toyota Starlet EP81 ini mengandalkan pelek orisinal TRD T3 yang dibalut ban GT Radial Champiro SX2 berukuran 195/50.Racikan tersebut memperlihatkan pendekatan modifikasi yang berorientasi pada fungsi. Dengan mempertahankan mesin 2E naturally aspirated dan transmisi standar, Anggi memilih mengoptimalkan komponen yang ada ketimbang mengejar kapasitas mesin lebih besar melalui engine swap.
Konsep ini menghadirkan karakter berbeda di arena kontes: sebuah hatchback klasik Jepang dengan tampilan bersih, pendekatan street racing, serta perhatian terhadap detail teknis dan keselamatan.
Bagi Indonesia Ladies Dragster, kehadiran kedua anggotanya juga menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa perempuan dapat mengambil peran aktif dalam beragam sisi dunia otomotif, mulai dari balap hingga pembangunan dan presentasi mobil modifikasi.
Akankah sedan premium Eropa milik Dhea mencuri perhatian melalui detail dan tampilannya, atau justru Toyota Starlet klasik Anggi yang menonjol lewat pendekatan street racing?


