Dari Porsche ke AMG: Stefan Weckbach Pimpin Kualitas Performa Mesin Mercedes

Pada 8 Desember 2025, muncul pengumuman resmi bahwa Mercedes‑AMG menunjuk Stefan Weckbach sebagai CEO baru, menggantikan Michael Schiebe efektif berlaku mulai 1 Juli 2026.

Weckbach tidak hanya akan memimpin AMG, tetapi juga memegang jabatan sebagai kepala Top End Vehicle Group entitas di Mercedes yang menaungi lini premium seperti G‑Class dan Maybach.

Keputusan ini mengakhiri masa singkat Schiebe sebagai pemimpin AMG sekitar 2,5 tahun sejak pengangkatannya pada Maret 2023.

Schiebe akan dipromosikan ke posisi lebih tinggi sebagai anggota board Mercedes‑Benz, menangani produksi, kualitas, dan rantai pasok.

Latar Belakang: Weckbach

Sebelum bergabung kembali ke Mercedes, Weckbach sempat meniti karier sebagai kepala strategi di grup VW sejak 2023. Sebelumnya, ia memegang tanggung jawab atas program Taycan di Porsche memberi dia pengalaman mendalam dalam produk mobil listrik dan proyek kompleks.

Pengalaman luas tersebut menjadi modal penting: AMG saat ini berada di persimpangan strategi, antara mempertahankan tradisi mesin performa dan bertransformasi ke era elektrifikasi.

Weckbach dianggap mampu menyeimbangkan warisan performa dengan tuntutan regulasi dan inovasi masa depan.

Mengapa Perubahan Ini Penting

Perubahan pucuk pimpinan di AMG terjadi di tengah kondisi yang menantang sekaligus penuh peluang.

Beberapa faktor kunci membuat pergantian ini sangat strategis:Reputasi dan kepercayaan merek menurun. Eksperimen kontroversial seperti penggantian mesin V8 pada model flagship Mercedes‑AMG C 63 S E Performance dengan empat-silinder plug-in hybrid telah menuai kritik dari penggemar AMG banyak yang merasa AMG kehilangan “jiwa performa.” Recall besar terhadap model supercar.

Produksi terbatas model elite AMG One menghadapi skandal recall hingga 219 unit karena risiko kebakaran mencoreng reputasi eksklusivitas dan engineering AMG. Tekanan regulasi dan transisi tenaga.

Dengan regulasi emisi dan tuntutan efisiensi makin ketat (termasuk standar Euro 7 di Eropa), AMG dihadapkan pada dilema: mempertahankan warisan mesin besar dan suara karakteristik, atau beralih ke elektrifikasi. Tuntutan diversifikasi produk.

AMG perlu memperluas portofolio dari BEV (battery‑electric vehicles) hingga mesin inline‑six atau V8 baru untuk menjaga relevansi di berbagai pasar, terutama dengan rival seperti BMW M dan Audi Sport.

Dengan Weckbach di pucuk pimpinan, AMG tampak hendak memulai babak baru: menyatukan ambisi electrical, tuntutan regulasi, dan keinginan fanatik akan mesin performa.

Rencana Produk AMG ke Depan: Evolusi dengan Komitmen Mesin

Menurut laporan, AMG tidak akan meninggalkan mesin tradisional begitu saja. Justru, mereka tengah mempersiapkan generasi V8 baru yang dirancang untuk memenuhi regulasi emisi terbaru (termasuk Euro 7) sambil tetap menyuguhkan performa maksimal.

Namun AMG juga akan merambah ke segmen elektrifikasi: konsep GT XX Concept disebut sebagai batu pijakan untuk super sedan listrik masa depan. AMG menargetkan menghasilkan “electric V8 terbaik di pasar” dengan suara mesin disintesis, perpindahan gigi simulatif, dan karakter berkendara emosional.

Dengan strategi hybrid: inline‑six dan V8 tradisional untuk puritan ICE‑lover; BEV dan hybrid untuk era baru AMG berharap dapat mengakomodasi spektrum konsumen luas, dari pecinta mesin klasik hingga penggemar teknologi modern.

Implikasi bagi Industri Otomotif Global dan Peluang bagi Pasar Asia, Termasuk Indonesia

Pergantian pimpinan di AMG bersamaan dengan strategi produk ganda mencerminkan tren industri global: automaker premium dituntut untuk fleksibel di era transisi menuju elektrifikasi, tanpa mengabaikan loyalitas basis pelanggan tradisional.

Bagi pasar Asia termasuk Indonesia dinamika ini membuka peluang dan tantangan:

Jika AMG tetap mempertahankan V8/MILD‑hybrid dan inline‑six, produk‑produk tersebut bisa menjadi daya tarik kuat bagi konsumen yang mendewakan karakter performa klasik.

Di sisi lain, lompatan ke BEV premium dengan performa AMG bisa meredefinisi persepsi konsumen terhadap mobil listrik “mewah + kencang”.

Distributor dan dealer di Indonesia termasuk mereka yang menangani brand Mercedes di segmen premium harus siap dengan dua jalur: mesin tradisional untuk mereka yang ingin sensasi klasik; serta edukasi dan pemasaran BEV/hybrid untuk mereka yang orientasinya ke efisiensi, regulasi, dan masa depan.

Tantangan:

Meski rencana terdengar ambisius, tidak semua hal akan mudah:

Suara dan sensasi mesin: Mesin listrik atau hybrid dengan “suara sintetis” dan “gear‑shift simulatif” mungkin tetap sulit menggantikan rasa dan atmosfer yang dihadirkan V8 murni saat akselerasi atau tarikan gas. Bahkan dalam artikel Motor1 disinggung, penulis menyatakan skeptisisme bahwa suara buatan bakal benar-benar memuaskan penggemar lama AMG.

Regulasi emisi dan lingkungan: Meskipun V8 baru dirancang patuh Euro 7, tekanan regulasi global terhadap emisi serta kesadaran konsumen terhadap isu lingkungan terus meningkat. Ini bisa mempersempit umur panjang mesin pembakaran di pasar tertentu.

Keselarasan brand identity: AMG dikenal sebagai merek “perfoma brutal” dengan karakter jelas. Transisi ke elektrifikasi dan diversifikasi powertrain memaksa AMG menjaga keseimbangan antara inovasi dan warisan tugas besar bagi pimpinan baru.

AMG di Persimpangan Sejarah Momentum Baru, Risiko BaruPenunjukan Stefan Weckbach sebagai CEO baru Mercedes‑AMG menandai titik balik strategis bagi divisi performa Mercedes. Dengan kombinasi antara warisan mesin performa, inovasi powertrain, dan tuntutan regulasi, AMG bersiap memasuki fase transformasi terbesar sejak dekade.

Bagi penggemar otomotif kelas atas termasuk pembaca di Indonesia perubahan ini patut dicermati: artinya, masa depan AMG bisa lebih fleksibel dan beragam. Tetapi sekaligus, bagi puritan pecinta suara V8 dan karakter agresif, hasil akhirnya bisa mengecewakan.

AMG kini bertaruh pada dua dunia sekaligus: mempertahankan warisan dan menatap masa depan elektrik. Keberhasilan bergantung pada kemampuan manajemen baru untuk menjaga balance antara selera emosional, performa, regulasi, dan teknologi.

Leave a Reply

Archives (Arsip Berita)


PertaliteRp. 10.000
Pertamax 92Rp. 12.750
Pertamax Turbo 98Rp. 13.750
Pertamina DexRp. 15.000
*Harga bisa berubah sewaktu-waktu
Super RON 92Rp. 13.000
V-Power RON 95Rp. 13.630
V-Power DieselRp. 15.250
V-Power Nitro+Rp. 13.890
*Harga bisa berubah sewaktu-waktu
BP UltimateRp. 13.630
BP 92Rp. 13.000
BP Ultimate DieselRp. 15.250
*Harga bisa berubah sewaktu-waktu
Revvo 92Rp. 13.000
Diesel PrimusRp. 15.250
*Harga bisa berubah sewaktu-waktu